Ziarah Yubileum Para Suster FCJM Komunitas Greccio Sinaksak
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Rabu, 24 September 2025 adalah hari yang telah lama kami, Komunitas Greccio Sinaksak, nantikan dan perjuangkan. Rencana ziarah Yubileum ini berulang kali terhambat, mengajarkan kami tentang kesabaran dan misteri Waktu Tuhan. Namun, pagi yang tenang dan damai itu menjadi bukti kerinduan hati yang terpenuhi.
Dalam keheningan batin, saya berbisik, memohon kepada Sang Empunya Kehidupan, “Tuhan, berkatilah rencana kami hari ini. Semoga Engkau berkenan menerima peziarahan kami.” Doa itu bukan sekadar permintaan, melainkan penyerahan total, keyakinan bahwa perjalanan ini adalah inisiatif-Nya, bukan semata-mata kami.
Seperti biasa, kehangatan komunitas dimulai dari meja makan. Sarapan bersama adalah komunikasi yang dibangun dari santapan sederhana yang disiapkan saudari muda – sebuah bekal rohani sebelum perjalanan iman yang sesungguhnya.
Perjalanan kami yang istimewa dimulai dari Gereja Paroki St. Petrus dan Paulus Batu V. Di sana, Pastor Paroki menegaskan inti dari segalanya: “Ini adalah perjalanan iman, bukan piknik.” Ibadat singkat yang kami ikuti berjalan khusyuk, puncaknya adalah ketika kami menerima Berkat dengan perecikan air dari Imam. Seketika, rasa cemas yang tak kasat mata tentang perjalanan dan rintangan di masa depan lenyap. Berkat itu menjadi jubah pelindung, menjamin bahwa kami tidak berjalan sendirian.
Menemukan Vatikan di Sumatera Utara
Setelah perjalanan sekitar dua jam, kami tiba di Graha Maria Annai Velangkanni, Medan. Kami disambut oleh keheningan tempat ini. Mata saya seolah memandang Vatikan kecil. Kaya akan ikon, Graha Maria adalah kebanggaan iman umat Katolik Sumatera Utara, sebuah pengingat akan universalitas Gereja.
Di sini, kami secara khusus menundukkan hati di hadapan Sang Bunda Penolong Abadi. Saya berkisah dalam hati, membawa permohonan Gereja Universal – kerinduan akan persatuan, keadilan, damai dan kebaikan di seluruh dunia. Berdoa bersama Bunda Maria di tempat yang hening ini, saya merasakan persatuan mendalam dengan setiap saudara dan saudari seiman. Rasanya seperti sebuah janji: bahwa kami, bersama-sama, akan mewujudkan dunia yang dicita-citakan—dunia yang damai, adil, dan penuh kasih.
Gerbang Karunia dan Panggilan Perdamaian
Perhentian berikutnya adalah tempat yang telah lama ingin saya kunjungi: Gereja Katedral. Kesakralan bangunan itu terasa hingga ke relung batin.
Saat saya menyentuh pintu Katedral – sebuah tindakan simbolis memasuki gerbang kasih karunia – saya merasakan sukacita. Saya merasa membawa banyak orang yang belum memiliki kesempatan ziarah seperti saya: mereka yang sakit, mereka yang terpinggirkan, dan mereka yang imannya sedang diuji. Sentuhan di pintu itu adalah perwakilan batin saya, membawa mereka untuk menerima rahmat bersama.
Dalam Misa Kudus, kembali terdengar penegasan penting. Peziarahan ini bukan hanya tentang penebusan dosa pribadi, tetapi juga Sarana Perdamaian: perdamaian bagi diri sendiri, perdamaian bagi sesama, dan perdamaian bagi ciptaan-Nya yang lain.
Saya merenung: Ziarah ini adalah panggilan ganda. Berkat di awal perjalanan memberikan keyakinan iman, dan penegasan di akhir memberikan misi perdamaian. Artinya, setelah kami menerima rahmat melalui iman, kami wajib memancarkannya sebagai agen perdamaian dalam setiap hubungan, setiap tindakan, bahkan dalam merawat bumi.
Pengalaman Ziarah Yubileum ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal yang baru – sebuah janji bahwa kami telah dikuatkan untuk kembali dan menjadi Greccio (palungan) yang penuh damai di dunia yang membutuhkan.
Sr. Dian Situmeang FCJM
Komunitas FCJM Greccio Sinaksak